Sunday, 16 September 2012

Kajian Resiko Kesehatan Perempuan dalam Proses Produksi, Distribusi dan Konsumsi Pola Makanan di Jayawijaya - Papua dengan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup


Sumber gambar : nationalgeographic.co.id
Empat penyakit (malaria, pneumonia, diarrhea dan malnutrisi) pada umumnya yang menyebabkan buruknya kondisi kesehatan di lembah baliyem khususnya wanita dan anak-anak. Kondisi ini sama dengan beberapa daerah lain yaitu wanita memiliki derajat lebih rendah dari pada laki-laki. Kondisi kesehatan yang buruk diantara suku asli Irian sebagian besar berkaitan dengan kemampuan kelompok yang masih jauh dari seluruh aspek pembangunan seperti pendidikan, kondisi sosial ekonomi, kurangnya informasi kesehatan dan lain sebagainya. Kesehatan lansia wanita mencerminkan pengalaman yang penuh dengan diskriminasi.
Lembah baliem terletak di pegunungan Jayawijaya Irian Jaya, Propinsi paling timur Indonesia. Masyarakat dani masih tinggal di desa terisolasi diatas tanah yang beratapkan jerami. Masyarakat suku dani menempatkan pria pada posisi tertinggi sedangkan wanita cenderung diabaikan. Wanita mempuyai peran paling penting dari segala jenis pekerjaan baik dalam bercocok tanam untuk mencukupi kebutuhan maupun urusan rumah tangga. Mereka menganggap tabu apabila pekerjaan wanita di ambil alih oleh laki-laki sehingga pada saat wanita mengalami kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan atau sakit kebutuhan mereka akan terhambat karena laki-laki merasa tidak wajar apabila mereka bekerja menggantikan posisi wanita.
Dalam mencukupi kebutuhan pangan masyarakat suku dani, laki-laki selalu mendapat bagian pertama disusul anak-anak baru kemudian wanita sehingga para wanita suku dani selalu mendapatkan makanan sisa. Dari segi pendidikan, mayoritas masyarakat yang sudah berumur tidak berpendidikan. Anak-anak yang baru masuk sekolah dasar sudah dikeluarkan karena masalah ekonomi. Sebagian besar mereka hanya mampu bercocok tanam ubi jalar untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari. Pengolahan makanan masih menggunakan teknik yang sangat sederhana atau tradisional seperti dibakar langsung dan direbus. Semua kegiatan tersebut dilakukan oleh wanita, laki-laki hanya sesekali membantu pekerjaan wanita dalam bercocok tanam seperti membersihkan lahan untuk bercocok tanam karena wanita yang paling tahu semua aspek pekerjaan dan wanita merupakan satu-satunya tumpuan keluarga.
Pada saat musim kemarau tiba, krisis makanan menjadi masalah pada masyarakat suku dani karena kegiatan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka terhambat. Pada bulan-bulan tertentu ketersediaan makanan dari lahan bercocok tanam tidak mencukupi kebutuhan sehingga muncul masalah kelaparan dan malnutrisi. Kondisi seperti ini sudah dianggap biasa oleh masyarakat suku dani.
Pokok permasalahan dari kasus masyarakat suku dani adalah adanya kelaparan dan malnutrisi karena ketidaksetaraan gender dan tidak adanya variasi jenis makanan pokok alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sehingga perlu adanya perubahan paradigma dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat suku dani serta pengenalan jenis makanan pokok lain untuk dijadikan sebagai alternatif apabila ketersediaan makanan pokok ubi jalar terbatas.
Dari gambaran kasus tersebut apabila mengacu pada kerangka kluckhohn mengenai lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai-budaya manusia adalah sebagai berikut:
1.  Hakekat hidup : hidup itu baik
2. Hakekat karya : karya itu untuk hidup. Masyarakat suku dani melakukan kegiatan/berkarya untuk hidup yang masih banyak kekurangan.
3. Persepsi tentang waktu : orientasi ke masa kini. Masyarakat suku dani bekerja untuk memenuhi kebutuhan masa kini.
4. Pandangan terhadap alam : tunduk kepada alam yang dahsyat. Pada musim tertentu seperti musim kemarau/kering kebutuhan mereka terhambat sehingga muncul berbagai macam kasus kesehatan seperti kelaparan dan malnutrisi.
5. Hakekat hubungan antara manusia dengan sesamanya : orientasi vertikal, rasa ketergantungan pada tokoh-tokoh atasan. Masyarakat suku dani bergantung pada budaya yang sudah turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tunduk terhadap nilai-nilai tersebut.
Kondisi masyarakat suku dani yang masih menganut prinsip-prinsip kebudayaan sangat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja masyarakat tersebut. Hal ini mengakibatkan banyaknya masalah-masalah kesehatan yang muncul sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus untuk merubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah turun-temurun dijalankan. Berbeda dengan pekerja-pekerja wanita pada industri yang sudah menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan hidup. Pada industri besar yang mempekerjakan wanita sebagai tenaga kerja seperti industri busana, sistem manajemen K3LH sudah diterapkan sehingga tercipta tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Pekerja wanita lebih diperhatikan dan dihargai untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan pada pekerja wanita.

No comments:

Post a Comment