| Sumber gambar : nationalgeographic.co.id |
Empat
penyakit (malaria, pneumonia, diarrhea dan malnutrisi) pada umumnya yang
menyebabkan buruknya kondisi kesehatan di lembah baliyem khususnya wanita dan
anak-anak. Kondisi ini sama dengan beberapa daerah lain yaitu wanita memiliki
derajat lebih rendah dari pada laki-laki. Kondisi kesehatan yang buruk diantara
suku asli Irian sebagian besar berkaitan dengan kemampuan kelompok yang masih
jauh dari seluruh aspek pembangunan seperti pendidikan, kondisi sosial ekonomi,
kurangnya informasi kesehatan dan lain sebagainya. Kesehatan lansia wanita
mencerminkan pengalaman yang penuh dengan diskriminasi.
Lembah
baliem terletak di pegunungan Jayawijaya Irian Jaya, Propinsi paling timur
Indonesia. Masyarakat dani masih tinggal di desa terisolasi diatas tanah yang
beratapkan jerami. Masyarakat suku dani menempatkan pria pada posisi tertinggi
sedangkan wanita cenderung diabaikan. Wanita mempuyai peran paling penting dari
segala jenis pekerjaan baik dalam bercocok tanam untuk mencukupi kebutuhan
maupun urusan rumah tangga. Mereka menganggap tabu apabila pekerjaan wanita di
ambil alih oleh laki-laki sehingga pada saat wanita mengalami kondisi yang
tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan atau sakit kebutuhan mereka akan
terhambat karena laki-laki merasa tidak wajar apabila mereka bekerja
menggantikan posisi wanita.
Dalam
mencukupi kebutuhan pangan masyarakat suku dani, laki-laki selalu mendapat
bagian pertama disusul anak-anak baru kemudian wanita sehingga para wanita suku
dani selalu mendapatkan makanan sisa. Dari segi pendidikan, mayoritas
masyarakat yang sudah berumur tidak berpendidikan. Anak-anak yang baru masuk
sekolah dasar sudah dikeluarkan karena masalah ekonomi. Sebagian besar mereka
hanya mampu bercocok tanam ubi jalar untuk memenuhi kebutuhan makanan
sehari-hari. Pengolahan makanan masih menggunakan teknik yang sangat sederhana
atau tradisional seperti dibakar langsung dan direbus. Semua kegiatan tersebut
dilakukan oleh wanita, laki-laki hanya sesekali membantu pekerjaan wanita dalam
bercocok tanam seperti membersihkan lahan untuk bercocok tanam karena wanita
yang paling tahu semua aspek pekerjaan dan wanita merupakan satu-satunya
tumpuan keluarga.
Pada
saat musim kemarau tiba, krisis makanan menjadi masalah pada masyarakat suku
dani karena kegiatan bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka
terhambat. Pada bulan-bulan tertentu ketersediaan makanan dari lahan bercocok
tanam tidak mencukupi kebutuhan sehingga muncul masalah kelaparan dan
malnutrisi. Kondisi seperti ini sudah dianggap biasa oleh masyarakat suku dani.
Pokok
permasalahan dari kasus masyarakat suku dani adalah adanya kelaparan dan
malnutrisi karena ketidaksetaraan gender dan tidak adanya variasi jenis makanan
pokok alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sehingga perlu
adanya perubahan paradigma dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan masyarakat suku
dani serta pengenalan jenis makanan pokok lain untuk dijadikan sebagai
alternatif apabila ketersediaan makanan pokok ubi jalar terbatas.
Dari
gambaran kasus tersebut apabila mengacu pada kerangka kluckhohn mengenai lima
masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai-budaya manusia adalah
sebagai berikut:
1. Hakekat
hidup : hidup itu baik
2. Hakekat
karya : karya itu untuk hidup. Masyarakat suku dani melakukan kegiatan/berkarya
untuk hidup yang masih banyak kekurangan.
3. Persepsi
tentang waktu : orientasi ke masa kini. Masyarakat suku dani bekerja untuk
memenuhi kebutuhan masa kini.
4. Pandangan
terhadap alam : tunduk kepada alam yang dahsyat. Pada musim tertentu seperti
musim kemarau/kering kebutuhan mereka terhambat sehingga muncul berbagai macam
kasus kesehatan seperti kelaparan dan malnutrisi.
5. Hakekat
hubungan antara manusia dengan sesamanya : orientasi vertikal, rasa
ketergantungan pada tokoh-tokoh atasan. Masyarakat suku dani bergantung pada
budaya yang sudah turun temurun diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tunduk
terhadap nilai-nilai tersebut.
Kondisi
masyarakat suku dani yang masih menganut prinsip-prinsip kebudayaan sangat
mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja masyarakat tersebut. Hal ini
mengakibatkan banyaknya masalah-masalah kesehatan yang muncul sehingga perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk merubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan
yang sudah turun-temurun dijalankan. Berbeda dengan pekerja-pekerja wanita pada
industri yang sudah menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
dan lingkungan hidup. Pada industri besar yang mempekerjakan wanita sebagai
tenaga kerja seperti industri busana, sistem manajemen K3LH sudah diterapkan
sehingga tercipta tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif. Pekerja
wanita lebih diperhatikan dan dihargai untuk mencegah terjadinya masalah
kesehatan pada pekerja wanita.
No comments:
Post a Comment